Kamis, 01 Februari 2018

Hay Readersku...
dipostingan pertamaku ini, aku berbagi cerpenku yang aku buat sendiri pas tugas bahasa indonesia, sebagian besar kejadian di dalam cerpen ini memang kisah nyataku..
sooo, gk usah lama lama,
selamat membaca





Cinta Dunia Maya

            “Masa remaja adalah masa dimana seseorang akan mengalami banyak hal yang tak pernah terduga sebelumnya. Remaja sekarang semakin modis, dengan zaman yang tambah modern, dimana teknologi semakin berkembang pesat.  Remaja yang kekinian selalu update hal apa saja, terutama masalah perasaan. Facebook menjadi ajang media untuk menuangkan segala hal apa yang dirasakan mereka, seperti………”
***
            Namaku Maya, anak pertama dari 2 bersauadara yang sudah 17 tahun yang lalu dilahirkan ibuku, ayahku berada jauh dengan keluarga, beliau seorang karyawan swasta di salah satu CV di kota yang 3 bulan sekali pulang hanya untuk sekedar melepas rindu dengan orang rumah. Ayahku seorang yang penyayang, apapun keinginan anaknya, akan selalu berusaha diturutinya. Ayah dan ibu rela berjauhan demi kesejahteraan keluarga, aku salut pada pemikiran mereka dan dengan apa yang mereka lakukan, bahwa mereka ingin memberikan kehidupan yang baik padaku dan adik perempuanku yang sekarang duduk di bangku kelas 2 SMP dengan cara mereka sendiri.
            Aku salah satu siswa SMA Negeri favorit di kotaku, dan bisa dibilang aku remaja yang kekinian, selalu mengikuti kemajuan zaman dan teknologi, sepertinya semua media sosial yang banyak digunakan orang- orang ada di handphone ku, instagram, twitter, path, bbm, dan sosmed favoritku adalah facebook, orang- orang banyak yang menggunakan media sosial itu, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa dan banyak juga orang tua yang memiliki akun facebook untuk mengawasai anak-anaknya di dunia maya.
            Dalam segala aspek menurutku aku orang yang multitalented , dalam hal mata pelajaran aku selalu bisa mengikuti bahkan bisa dikatakan dalam kategori “baik”. Suaraku cukup bagus buktinya aku pernah mendapat juara 3 untuk lomba bernyanyi solo, bermain gitar, bermain peran, menyanyi, menari aku bisa melakukan semuanya, tetapi hanya satu permasalahanku, aku selalu menjadi sasaran empuk bagi teman-teman ketika ada topik mengenai  percintaan yang sedang mereka bicarakan, masalahnya aku sudah berumur 17 tahun, tetapi aku belum pernah memiliki pacar, sedangkan diusia- usia itu adalah masa dimana untuk merasakan kasih sayang antara seorang laki-laki dan perempuan. Entah mengapa tak ada cowok yang ingin menyinggahkan hatinya padaku. Ada beberapa cowok di sekolahku yang mencoba mendekatiku, tetapi setelah mereka tahu lebih jauh tentang diriku, dengan segera mereka menghentikan niatnya itu. Mungkin karena mereka minder akan segala kemampuan yang aku miliki. Mereka tak cukup percaya diri untuk mengambil hati dan perasaanku, mungkinkah seperti itu?
            Sekolah adalah rumah kedua bagiku, hampir setengah hari waktuku kuhabiskan di sekolah. Sepertinya rumah hanya menjadi tempat persinggahan untuk tidur dan makan. Pukul 07.00 hingga 17.00 aku berada di sekolah. Memang sekolah hanya sampai jam 16.00 tetapi aku sering refresing dengan memanfaatkan fasilitas yang diberikan sekolah yaitu internet, apalagi kalau bukan untuk update di media sosial dan browsing mengenai apa saja, mulai dari berita-berita yang sedang populer, artikel-artikel, sampai download film-film yang sedang hits, setidaknya dengan begitu rasa jenuhku bisa berkurang setelah seharian mengikuti pembelajaran.
***
            Ulangan semester pertama ditahun keduaku sekolah, akan segera mulai, anak-anak rajin di kelasku tentu saja mulai sibuk belajar, fokus dan hanya tertuju pada sebuah simbol berupa angka yang diterima setelah mengerjakan beberapa soal dari setiap mata pelajaran, dan itu sering disebut dengan nilai. Dalam hal nilai sepertinya aku yang paling santai, aku berusaha sebisaku, dan bagaimanapun hasilnya akan menjadi tanggunganku.
            Dua minggu sudah ujian semester ini aku lalui, belajar dengan sistem kebut semalam sudah aku jalani, hingga mata panda ini muncul dengan jelasnya, muka yang suram dan datar tanpa ekspresi datang tak diundang, dengan suasana yang tegang dan rasa penasaran untuk mengetahui hasil belajar selama satu semester yang hanya dihargai dengan satu lembar kertas berisi angka-angka yang merupakan bentuk dari manifestasi seberapa banyak ilmu dan pengetahuan yang telah kami dapatkan. Aku cukup percaya diri dengan nilaiku, dan benar saja aku termasuk dalam jajaran murid yang cukup pandai di kelas dengan peringkat 5 besar yang aku dapatkan.
            Inilah waktu yang aku nanti-nantikan, apalagi kalau bukan liburan semester. Ya, liburan semester adalah masa dimana aku bisa memulihkan pikiran dan energiku, dimana aku bisa bermalas- malasan di rumah setelah 6 bulan di semester pertama bertempur dengan banyaknya tugas, presentasi dan ulangan-ulangan. Duduk di teras rumah, membuka facebook dan melihat- lihat apa yang ada di beranda fb ku. “Waahh, ternyata ada satu pesan, dari siapa ya?” langsung saja aku buka dan aku baca, dan ternyata hanya seorang yang ingin mengajak kenalan, “Boleh kenalan?”, “ Namaku Maya, salam kenal” balasku. “ Aku Dicki, salam kenal juga” jawabnya, dan perbincangan itupun berlanjut. Obrolan- obrolan ringan yang biasa dilakukan orang yang baru kenal, pertanyaan- pertanyaan “ kamu lagi apa? sudah makan?, sudah sholat?” pun tak luput dari pertanyaanya.
            Hampir saja aku lupa, tadi ibu menyuruh untuk mencuci piring yang masih menumpuk di washtaflle. Langsung saja aku beranjak dari tempat dudukku tadi, kalau ibu pulang dari rumah nenek dan cucian piring masih utuh, akan ada omelan- omelan kecil darinya.
            Setiap hari hanya kegiatan-kegiatan seperti itu saja yang aku lakukan, bangun tidur, makan, nonton tv, tidur siang, update di facebook sampai tidur lagi, selama kurang lebih dua minggu. Sementara itu Dicki lebih intens untuk menginterogasiku dengan pertanyaan- pertanyaan yang lebih berat dari waktu itu, dia mulai bertanya mengenai pribadi ku, tentu saja pertanyaanya adalah apakah aku sudah memiliki pacar atau belum, dan dengan jujurnya aku pun menjawab “belum”.  Hampir setiap hari aku dan Dicki berbincang melalui facebook, dan setelah beberapa hari, ternyata aku nyaman dengan obrolan-obrolannya walaupun tanpa bertatap muka secara langsung dan sampai liburan semester berakhir aku masih sering chat dengan dia, baru kali ini ada orang yang membuatku nyaman seperti ini.
            Tak terasa sudah 2 bulan aku lewati setelah terakhir kali liburan semester dan dimana aku mengenal Dicki di facebook. Kini kami layaknya sahabat yang tidak ada jarak. Kami jadi dekat dengan komunikasi yang rutin melalui facebook, bbm ataupun sms ketika aku nggak punya kuota internet. Karena kedekatan yang kita rasakan, akhirnya kita berencana untuk bertemu untuk pertama kalinya. Karena dia belum tahu pasti dengan lokasi rumahku, dia menyarankan bahwa lebih baik dia menjemputku di depan sebuah minimarket yang berada di daerah sekitar tempat tinggalku dan setelah itu kita menuju ke kafe yang lebih nyaman untuk mengobrol secara langsung. Dengan ide yang cukup baik itu aku menyetujuinya, dan tak sabar rasanya agar waktu cepat berlalu dan menemui momen itu.

***
            Dengan hati yang berdegup kencang dan kaki yang sedikit gemetar aku  berjalan menuju tempat yang sudah disepakati sembari aku menebak-nebak respon apa yang dia berikan ketika pertama kali melihatku, “Apakah penampilanku seperti yang diharapkanya?”, “Apakah rupa asliku seperti yang ada dalam benaknya?” Dalam hati aku bergumam, dan sesaat kulihat cowok dengan jaket berwarna hitam, celana jeans dan bersepatu naik motor King berlawanan arah yang perlahan mendekatiku “ Hai, mau kemana?” “Mau pulang” jawabku dengan suara lantang, entah mengapa kata-kata itu yang muncul pertama kali. “Mau pulang?, lupa ya?” tanya cowok itu. Karena aku takut kalau cowok itu bukan orang yang aku maksud, aku pura-pura lupa “Siapa ya?” tanyaku. “Masa lupa sih?” jawabnya. “Dicki yah?, hai aku Maya”.  Aku mulai yakin kalau cowok itu adalah Dicki, wajah dan penampilan aslinya tidak jauh berbeda dengan yang ada di facebook. “Ayo kita jalan”. “Oke”, dengan penuh semangat aku menjawabnya. Di tengah perjalanan aku merasa gugup dan tidak tahu harus berbuat apa, tak ada cara lain, aku mengeluarkan handphone dari saku celana ku, aku berniat untuk melihat halaman facebooknya. Tapi anehnya, akun Dicki tertuliskan “sedang aktif” dan itu artinya ada orang yang sedang menggunakan akun itu, sedangkan Dicki sedang mengendarai motor dan aku diboncengnya, lalu apa yang sebenarnya sedang terjadi, manakah Dicki yang aku maksud? cowok yang sedang bersamaku atau cowok yang sedang aktif di facebook? hatiku gelisah dan mulai tidak yakin dengan apa yang aku kira sebelumnya. Langsung aku mengirim pesan ke akun facebook Dicki berupa “????”, dan seketika itu, pesan itu dilihatnya “Maya, kamu dimana?” dia membalas. Sontak saja aku langsung menepuk punggung dan meminta menghentikan laju motor cowok yang aku bonceng, “Kamu bukan Dicki yah?  Kamu siapa? Tolong berhenti sekarang!” Campur aduk yang aku rasakan, takut, kecewa, gelisah diselimuti gugup. Dia menghentikan laju motornya, dan aku langsung beranjak turun dari boncenganya, “Kamu siapa sih?” “Maaf, aku Irfan, aku bukan Dicki”. “Apa maksud kamu coba?” tanyaku dengan nada yang sangat kesal, dan hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya, langsung saja aku pergi menjauh darinya, aku berjalan dengan cepat dan masih terdengar kata-kata maaf yang dikeluarkannya bertubi-tubi.
            Aku menelfon Dicki dan mengatakan untuk langsung menuju kafe yang sudah kita rencanakan sebelumnya, dan Dicki pun dengan tenang mengiyakan agar aku tidak grasa-grusu.
            Memasuki kafe, pandanganku langsung tertuju pada seorang cowok yang melambaikan tangannya, menatap kearahku. Hatiku mengatakan dialah orang yang ku maksud. Langsung kuhampiri dia, “ Dicki kan?” serobotku dengan suara yang sedikit gemetar, “Iya, kamu Maya kan?” balasnya. “ Alhamdulillah, maaf banget yah, karena kecerobohanku kamu jadi nunggu lama.” Dengan antusias dia bertanya “Kamu baik-baik saja kan, apa yang sebenarnya terjadi sih May?”. Mulai kuceritakan apa yang barusan terjadi padaku bahwa aku dibonceng orang yang mengaku kenal denganku yang aku kira orang itu adalah Dicki, kutanyakan pada Dicki apakah dia mengenal cowok aneh bernama Irfan, dengan beberapa ciri-ciri yang kusebutkan, ternyata Dicki juga tak tahu menahu tentang Irfan.
            Melupakan apa yang barusan terjadi padaku dengan cowok aneh bernama Irfan, aku belum benar-benar sadar, bahwa di depanku ada cowok dengan penampilan maskulinnya, dia sungguh lebih menawan dibanding dengan fotonya yang diunggah di akun facebooknya. Sejenak aku tertegun pada pandangan matanya yang begitu tajam. Hal yang kutakutkan pun datang, rasa canggung itu mulai menggerogoti suasana yang awkward. Perbincangan mengenai hobi dan hal-hal yang kami sukai dibahas untuk kedua kalinya, sudah habis 1 gelas minuman yang kami pesan dan karena itu, dia mengajakku untuk mengakhiri pertemuan ini, sebagai lelaki, tentu saja dia menawarkan diri untuk mengantarku sampai ke rumah.
            Motor Ninja berwarna putih biru itu telah sampai tepat di depan rumahku, dan untuk pertama kalinya aku dibonceng oleh teman cowok yang cukup istimewa sampai di depan rumah, “ Mau mampir nggak?” tanyaku yang sedikit canggung dan basa-basi, “Hmmm, boleh deh sebentar.” Sontak aku tertegun mendengar jawaban itu, dan apa yang harus aku katakan pada ibu, maklum saja ini pertama kalinya aku membawa teman laki-laki masuk ke rumah.
            “Assalamu’alaikum, ibu, Maya pulang.” “Wa’alaikumsalam.” ibu menjawab salamku. Benar saja, ibu tampak bingung dengan kedatanganku bersama Dicki, ibu menyuruh kita duduk dan ibu mulai bertanya mengenai apa yang aku lakukan dan siapa lelaki yang datang bersamaku ini, aku pun menceritakan semua pada ibu mulai dari perkenalan ku dengan Dicki di facebook sampai kejadian aku dibonceng cowok yang nggak aku kenal. Tanpa ada yang terlewatkan semua kuceritakan pada ibu. Selayaknya seorang ibu yang sangat menyayangi putrinya, beliau memberikan nasihat agar aku lebih berhati-hati terhadap setiap orang yang baru aku kenal.
            Hari-hari aku lalui dengan penuh semangat, itu semua karena dampak yang ditimbulkan oleh Dicki, dia rajin menyemangatiku dan aku rasa aku telah jatuh hati kepadanya sejak pertemuan pertama kali itu.
            Berbaring di sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselku, bergetar ponselku menandakan ada messenger, dengan sigap jemariku membukanya dan ternyata itu adalah pesan dari  Dicki, “Kapan kita bisa jalan bareng lagi?”, tentu saja hatiku langsung berbunga-bunga, awalnya aku jual mahal dan diselingi dengan basa-basi, dan akhirnya kita sepakat untuk bertemu di taman hiburan weekend ini.
            Weekend yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga, aku mempersiapkan diri semaksimal mungkin, dengan penampilan yang simpel tapi elegan. Kudengar suara motor yang waktu itu, terhenti di depan rumahku. Dengan ramah, ibuku membuka pintu dan benar saja, dia yang datang adalah yang ditunggu. Ibu memanggilku, aku dan Dicki pun pamit untuk pergi bersama, tentu saja ibu mengijinkanku, lagi pula Dicki sudah datang, tidak mungkin ibu akan melarangku.
            Seharian waktu kuhabiskan bersamanya, taman hiburan, mall, dan bioskop sudah kita datangi. Rasa lelah kalah dengan kesenangan yang aku rasakan bersamanya. Pertemuan kedua ini, membuatku semakin nyaman bersama Dicki. Pikirannya dan tutur katanya sangat menawan, bersikap dewasa, tanpa berlebihan. Candaan-candaanya mampu membuat aku tersenyum lebar. Disisi lain, ketakutanku akan perpisahan mulai merambah hati dan perasaanku, tak bisa dipungkiri bahwa setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan.
            Sudah 1 bulan sejak pertemuan kedua itu dan tak ada kabar dari Dicki, dia menghilang seakan ditelan bumi, entah kenapa dia menjauh, aku tak bisa menebak-nebak apa sebabnya. Facebook tidak pernah aktif, sms tak pernah dibalas, susah ditelfon, bbm juga nggak pernah on. “ Gimana kabar Dicki Kak?” nggak kuduga ibu bertanya seperti itu. “Entahlah, Maya juga nggak tahu bu.” Aku menjawab pertanyaan ibu dengan nada yang penuh kekecewaaan. nggak terasa air mataku langsung menetes seketika aku melihat foto di profil bbm Dicki yang memajang gambar dirinya bersama seorang cewek yang terlihat jelas perangainya tidak ada hubungan darah melainkan terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Apa dayaku yang hanya sebatas “kenalan”. Sekarang aku tahu kenapa Dicki menjauh dariku dan tak mau menghubungiku, dan cowok misterius bernama Irfan, sampai sekarang aku nggak tahu apa-apa tentang dia.
             Tak mau lebih jauh untuk sakit hati, aku menyibukkan diri dengan mengikuti beberapa seminar dan macam- macam sosialisasi yang diadakan di sekolah. Dengan cara ini aku berharap aku bisa melupakan dan menghilangkan perasaanku untuk Dicki.

***
            Aku memang anak yang selalu update di media sosial terutama facebook, hal apa saja yang aku alami terutama emosi perasaan, entah itu sedih, senang, kecewa, gelisah atau hal-hal yang menurut orang lain tidak penting pun aku unggah di facebook, terkecuali masalah percintaanku. Aku memiliki prinsip bahwa cinta adalah masalah yang sangat pribadi dan bukan konsumsi publik, terlalu sakral bila masalah percintaan dikemukakan di ranah umum.
            Walaupun sudah 1 bulan berlalu, bayang-bayang Dicki masih jelas dibenakku. Simpang siur akun-akun “Dicki” kedua kembali berdatangan, tapi tak ada yang senyaman ketika aku bersamanya. Aku mencoba untuk fokus pada seorang cowok saja, dengan harapan aku bisa melupakan Dicki sepenuhnya ketika aku bersama dia yang baru. Secara tidak langsung aku mencari seseorang yang dapat membantu berlari dari kenyataan bahwa perasaanku masih bersama Dicki. Dia adalah Akhmad, cowok yang bersekolah di SMK swasta jurusan otomotif kelas 12. Nggak beberapa lama sejak kita saling berkenalan di facebook, kita memutuskan untuk bertemu. Aku akui dia tidak kalah kerennya dengan Dicki, dia terlihat sangat antusias, tapi aku tidak akan ceroboh lagi tentang perasaan. Mengambil ancang-ancang dan mempersiapkan hati jika sewaktu-waktu dia menghilang.
            Beberapa kali aku dan Akhmad jalan bareng, hingga dipertemuan ke-3 dia menyatakan perasaanya padaku. Sebenarnya aku merasa nyaman dengan dia, tapi belum ada perasaan seperti yang aku rasakan kepada Dicki, setelah aku pikir-pikir mungkin ini kesempatanku agar aku bisa melupakan Dicki dan waktu demi waktu mungkin aku akan benar-benar sayang sama Akhmad.
            Beberapa minggu aku menjalin hubungan dengan Akmad, mulai timbul rasa sayang dan sedikit demi sedikiti ada cinta didalamnya. Komunikasi yang begitu rutin dan lancar disertai topic-topik pembicaraan yang tak pernah ada habisnya, dari situlah aku menaruh perasaan yang sama seperti dulu yang pernah kusinggahkan untuk Dicki. Sekarang aku benar-benar sayang sama Akhmad, dan benar-benar bisa melupakan Dicki sepenuhnya.
***
            Apa boleh dikata, ternyata ada cewek lain selain aku yang ada di hati Akhmad, aku mengetahuinya secara langsung dari Akhmad bahwa dia ingin mengakhiri hubungannya denganku. Rasa sakit itu bertambah saat dia mengatakannya melalui pesan singkat yang dikirimnya, “ Sebelumnya aku benar-benar minta maaf Maya, aku memang lelaki yang pengecut, ada cewek lain selain kamu dan aku lebih menyayanginya, daripada hubungan kita dilanjutkan dengan penuh sandiwara lebih baik kita sampai disini, sekali lagi aku minta maaf.” Pesan yang kuterima setelah aku lagi capek-capeknya pulang dari sekolah. Aku tak menjawab pesan itu, bukan apa-apa, hanya saja aku nggak punya pulsa. Sungguh sakitnya hatiku, aku sedang sayang-sayangnya sama dia, tapi malah dia ingin mengakhirinya. 2 hari setelah itu aku mendapati pesan singkat darinya lagi, “ Maya, apa kau tak mau memaafkan kesalahanku? Aku tak bahagia dengannya, dia sudah menghianatiku dengan menjalin hubungan juga dengan temanku sendiri. Maya kita bisa kan memperbaiki hubungan kita?” dan banyak pesan singkat yang dikirimnya, yang intinya dia pengin balikan sama aku. Aku pun tidak membalasnya karena masih belum sempet juga beli pulsa, aku memang orang yang pemaaf dan tidak ingin memperpanjang masalah. Jujur saja, perasaanku ke Akhmad sudah tak utuh lagi. Dengan bermodalkan pulsa hutangan dari operator, aku menjawab pesan singkatnya “Ya udah Mad, lupain aja, kita mulai hubungan kita dari awal lagi.” Dan hubungan kita pun masih berlanjut, mungkin ini adalah karma, karena niat awalku yang hanya menjadikan Akhmad sebagai pelarian dari  perasaanku terhadap Dicki.
            Setelah beberapa lama, aku merasa bahwa hubunganku dengan Akhmad terasa hambar, semakin lama aku seperti meyepelekan dia, tak ada lagi rasa cinta untuknya. Beberapa hari aku merenungi apa yang telah aku perbuat, aku sadar telah dibutakan oleh cinta. Dengan mudahnya dia menyatakan cinta, ingin mengakhiri hubungan, dan minta balikan. Semudah itukah baginya? Ternyata cinta tak sebegitu indah seperti dalam bayanganku. Tak ada nafsu lagi aku memburu cinta. Cukup sampai disini aku sakit karena cinta. Tak akan ada lagi dunia cinta yang maya. Inilah skenario-Nya. Tuhan tahu bahwa yang kubutuhkan saat ini bukan lah cinta dari seorang laki-laki.
           
***
            Begitu saja aku mengakhiri hubunganku dengan Akhmad. Entah apa yang dipikirkanya tentangku, aku tak peduli lagi. Menata kembali hidupku untuk masa depan, fokus pada karir dan sekolaku, aku tak ingin pusing-pusing lagi memikirkan jodohku. Biarlah jodohku yang pusing memikirkan dimana aku.
             
           
           
           Yaps,  semoga kalian bisa memetik hikmah yah dari cerpen ini...
terimakasih
           

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar