Hay Readersku...
dipostingan pertamaku ini, aku berbagi cerpenku yang aku buat sendiri pas tugas bahasa indonesia, sebagian besar kejadian di dalam cerpen ini memang kisah nyataku..
sooo, gk usah lama lama,
selamat membaca
dipostingan pertamaku ini, aku berbagi cerpenku yang aku buat sendiri pas tugas bahasa indonesia, sebagian besar kejadian di dalam cerpen ini memang kisah nyataku..
sooo, gk usah lama lama,
selamat membaca
Cinta Dunia Maya
“Masa
remaja adalah masa dimana seseorang akan mengalami banyak hal yang tak pernah
terduga sebelumnya. Remaja sekarang semakin modis, dengan zaman yang tambah
modern, dimana teknologi semakin berkembang pesat. Remaja yang kekinian selalu update hal apa saja, terutama masalah
perasaan. Facebook menjadi ajang
media untuk menuangkan segala hal apa yang dirasakan mereka, seperti………”
***
Namaku
Maya, anak pertama dari 2 bersauadara yang sudah 17 tahun yang lalu dilahirkan
ibuku, ayahku berada jauh dengan keluarga, beliau seorang karyawan swasta di
salah satu CV di kota yang 3 bulan
sekali pulang hanya untuk sekedar melepas rindu dengan orang rumah. Ayahku
seorang yang penyayang, apapun keinginan anaknya, akan selalu berusaha
diturutinya. Ayah dan ibu rela berjauhan demi kesejahteraan keluarga, aku salut
pada pemikiran mereka dan dengan apa yang mereka lakukan, bahwa mereka ingin
memberikan kehidupan yang baik padaku dan adik perempuanku yang sekarang duduk
di bangku kelas 2 SMP dengan cara mereka sendiri.
Aku
salah satu siswa SMA Negeri favorit di kotaku, dan bisa dibilang aku remaja
yang kekinian, selalu mengikuti kemajuan zaman dan teknologi, sepertinya semua
media sosial yang banyak digunakan orang- orang ada di handphone ku, instagram, twitter, path, bbm, dan sosmed
favoritku adalah facebook, orang-
orang banyak yang menggunakan media sosial itu, mulai dari anak-anak, remaja,
orang dewasa dan banyak juga orang tua yang memiliki akun facebook untuk mengawasai anak-anaknya di dunia maya.
Dalam
segala aspek menurutku aku orang yang multitalented
, dalam hal mata pelajaran aku selalu bisa mengikuti bahkan bisa dikatakan
dalam kategori “baik”. Suaraku cukup bagus buktinya aku pernah mendapat juara 3
untuk lomba bernyanyi solo, bermain gitar, bermain peran, menyanyi, menari aku
bisa melakukan semuanya, tetapi hanya satu permasalahanku, aku selalu menjadi
sasaran empuk bagi teman-teman ketika ada topik mengenai percintaan yang sedang mereka bicarakan,
masalahnya aku sudah berumur 17 tahun, tetapi aku belum pernah memiliki pacar,
sedangkan diusia- usia itu adalah masa dimana untuk merasakan kasih sayang
antara seorang laki-laki dan perempuan. Entah mengapa tak ada cowok yang ingin
menyinggahkan hatinya padaku. Ada beberapa cowok di sekolahku yang mencoba
mendekatiku, tetapi setelah mereka tahu lebih jauh tentang diriku, dengan
segera mereka menghentikan niatnya itu. Mungkin karena mereka minder akan
segala kemampuan yang aku miliki. Mereka tak cukup percaya diri untuk mengambil
hati dan perasaanku, mungkinkah seperti itu?
Sekolah
adalah rumah kedua bagiku, hampir setengah hari waktuku kuhabiskan di sekolah.
Sepertinya rumah hanya menjadi tempat persinggahan untuk tidur dan makan. Pukul
07.00 hingga 17.00 aku berada di sekolah. Memang sekolah hanya sampai jam 16.00
tetapi aku sering refresing dengan memanfaatkan fasilitas yang diberikan
sekolah yaitu internet, apalagi kalau bukan untuk update di media sosial dan browsing
mengenai apa saja, mulai dari berita-berita yang sedang populer,
artikel-artikel, sampai download
film-film yang sedang hits, setidaknya dengan begitu rasa jenuhku bisa
berkurang setelah seharian mengikuti pembelajaran.
***
Ulangan
semester pertama ditahun keduaku sekolah, akan segera mulai, anak-anak rajin di
kelasku tentu saja mulai sibuk belajar, fokus dan hanya tertuju pada sebuah
simbol berupa angka yang diterima setelah mengerjakan beberapa soal dari setiap
mata pelajaran, dan itu sering disebut dengan nilai. Dalam hal nilai sepertinya
aku yang paling santai, aku berusaha sebisaku, dan bagaimanapun hasilnya akan
menjadi tanggunganku.
Dua
minggu sudah ujian semester ini aku lalui, belajar dengan sistem kebut semalam sudah
aku jalani, hingga mata panda ini muncul dengan jelasnya, muka yang suram dan
datar tanpa ekspresi datang tak diundang, dengan suasana yang tegang dan rasa
penasaran untuk mengetahui hasil belajar selama satu semester yang hanya
dihargai dengan satu lembar kertas berisi angka-angka yang merupakan bentuk
dari manifestasi seberapa banyak ilmu dan pengetahuan yang telah kami dapatkan.
Aku cukup percaya diri dengan nilaiku, dan benar saja aku termasuk dalam
jajaran murid yang cukup pandai di kelas dengan peringkat 5 besar yang aku
dapatkan.
Inilah
waktu yang aku nanti-nantikan, apalagi kalau bukan liburan semester. Ya,
liburan semester adalah masa dimana aku bisa memulihkan pikiran dan energiku,
dimana aku bisa bermalas- malasan di rumah setelah 6 bulan di semester pertama
bertempur dengan banyaknya tugas, presentasi dan ulangan-ulangan. Duduk di
teras rumah, membuka facebook dan melihat-
lihat apa yang ada di beranda fb ku.
“Waahh, ternyata ada satu pesan, dari siapa ya?” langsung saja aku buka dan aku
baca, dan ternyata hanya seorang yang ingin mengajak kenalan, “Boleh kenalan?”,
“ Namaku Maya, salam kenal” balasku. “ Aku Dicki, salam kenal juga” jawabnya,
dan perbincangan itupun berlanjut. Obrolan- obrolan ringan yang biasa dilakukan
orang yang baru kenal, pertanyaan- pertanyaan “ kamu lagi apa? sudah makan?,
sudah sholat?” pun tak luput dari pertanyaanya.
Hampir
saja aku lupa, tadi ibu menyuruh untuk mencuci piring yang masih menumpuk di washtaflle. Langsung saja aku beranjak
dari tempat dudukku tadi, kalau ibu pulang dari rumah nenek dan cucian piring
masih utuh, akan ada omelan- omelan kecil darinya.
Setiap
hari hanya kegiatan-kegiatan seperti itu saja yang aku lakukan, bangun tidur,
makan, nonton tv, tidur siang, update
di facebook sampai tidur lagi, selama
kurang lebih dua minggu. Sementara itu Dicki lebih intens untuk
menginterogasiku dengan pertanyaan- pertanyaan yang lebih berat dari waktu itu,
dia mulai bertanya mengenai pribadi ku, tentu saja pertanyaanya adalah apakah
aku sudah memiliki pacar atau belum, dan dengan jujurnya aku pun menjawab
“belum”. Hampir setiap hari aku dan
Dicki berbincang melalui facebook,
dan setelah beberapa hari, ternyata aku nyaman dengan obrolan-obrolannya walaupun
tanpa bertatap muka secara langsung dan sampai liburan semester berakhir aku
masih sering chat dengan dia, baru
kali ini ada orang yang membuatku nyaman seperti ini.
Tak
terasa sudah 2 bulan aku lewati setelah terakhir kali liburan semester dan dimana
aku mengenal Dicki di facebook. Kini
kami layaknya sahabat yang tidak ada jarak. Kami jadi dekat dengan komunikasi
yang rutin melalui facebook, bbm ataupun sms ketika aku nggak punya
kuota internet. Karena kedekatan yang kita rasakan, akhirnya kita berencana
untuk bertemu untuk pertama kalinya. Karena dia belum tahu pasti dengan lokasi
rumahku, dia menyarankan bahwa lebih baik dia menjemputku di depan sebuah
minimarket yang berada di daerah sekitar tempat tinggalku dan setelah itu kita
menuju ke kafe yang lebih nyaman untuk mengobrol secara langsung. Dengan ide
yang cukup baik itu aku menyetujuinya, dan tak sabar rasanya agar waktu cepat
berlalu dan menemui momen itu.
***
Dengan
hati yang berdegup kencang dan kaki yang sedikit gemetar aku berjalan menuju tempat yang sudah disepakati
sembari aku menebak-nebak respon apa yang dia berikan ketika pertama kali
melihatku, “Apakah penampilanku seperti yang diharapkanya?”, “Apakah rupa asliku
seperti yang ada dalam benaknya?” Dalam hati aku bergumam, dan sesaat kulihat
cowok dengan jaket berwarna hitam, celana jeans dan bersepatu naik motor King berlawanan arah yang perlahan
mendekatiku “ Hai, mau kemana?” “Mau pulang” jawabku dengan suara lantang,
entah mengapa kata-kata itu yang muncul pertama kali. “Mau pulang?, lupa ya?”
tanya cowok itu. Karena aku takut kalau cowok itu bukan orang yang aku maksud,
aku pura-pura lupa “Siapa ya?” tanyaku. “Masa lupa sih?” jawabnya. “Dicki yah?,
hai aku Maya”. Aku mulai yakin kalau
cowok itu adalah Dicki, wajah dan penampilan aslinya tidak jauh berbeda dengan
yang ada di facebook. “Ayo kita
jalan”. “Oke”, dengan penuh semangat aku menjawabnya. Di tengah perjalanan aku
merasa gugup dan tidak tahu harus berbuat apa, tak ada cara lain, aku
mengeluarkan handphone dari saku
celana ku, aku berniat untuk melihat halaman facebooknya. Tapi anehnya, akun Dicki tertuliskan “sedang aktif” dan
itu artinya ada orang yang sedang menggunakan akun itu, sedangkan Dicki sedang
mengendarai motor dan aku diboncengnya, lalu apa yang sebenarnya sedang
terjadi, manakah Dicki yang aku maksud? cowok yang sedang bersamaku atau cowok
yang sedang aktif di facebook? hatiku
gelisah dan mulai tidak yakin dengan apa yang aku kira sebelumnya. Langsung aku
mengirim pesan ke akun facebook Dicki
berupa “????”, dan seketika itu, pesan itu dilihatnya “Maya, kamu dimana?” dia
membalas. Sontak saja aku langsung menepuk punggung dan meminta menghentikan
laju motor cowok yang aku bonceng, “Kamu bukan Dicki yah? Kamu siapa? Tolong berhenti sekarang!” Campur
aduk yang aku rasakan, takut, kecewa, gelisah diselimuti gugup. Dia
menghentikan laju motornya, dan aku langsung beranjak turun dari boncenganya,
“Kamu siapa sih?” “Maaf, aku Irfan, aku bukan Dicki”. “Apa maksud kamu coba?”
tanyaku dengan nada yang sangat kesal, dan hanya kata maaf yang keluar dari
mulutnya, langsung saja aku pergi menjauh darinya, aku berjalan dengan cepat
dan masih terdengar kata-kata maaf yang dikeluarkannya bertubi-tubi.
Aku
menelfon Dicki dan mengatakan untuk langsung menuju kafe yang sudah kita
rencanakan sebelumnya, dan Dicki pun dengan tenang mengiyakan agar aku tidak
grasa-grusu.
Memasuki
kafe, pandanganku langsung tertuju pada seorang cowok yang melambaikan
tangannya, menatap kearahku. Hatiku mengatakan dialah orang yang ku maksud.
Langsung kuhampiri dia, “ Dicki kan?” serobotku dengan suara yang sedikit
gemetar, “Iya, kamu Maya kan?” balasnya. “ Alhamdulillah, maaf banget yah,
karena kecerobohanku kamu jadi nunggu lama.” Dengan antusias dia bertanya “Kamu
baik-baik saja kan, apa yang sebenarnya terjadi sih May?”. Mulai kuceritakan
apa yang barusan terjadi padaku bahwa aku dibonceng orang yang mengaku kenal
denganku yang aku kira orang itu adalah Dicki, kutanyakan pada Dicki apakah dia
mengenal cowok aneh bernama Irfan, dengan beberapa ciri-ciri yang kusebutkan,
ternyata Dicki juga tak tahu menahu tentang Irfan.
Melupakan
apa yang barusan terjadi padaku dengan cowok aneh bernama Irfan, aku belum
benar-benar sadar, bahwa di depanku ada cowok dengan penampilan maskulinnya,
dia sungguh lebih menawan dibanding dengan fotonya yang diunggah di akun
facebooknya. Sejenak aku tertegun pada pandangan matanya yang begitu tajam. Hal
yang kutakutkan pun datang, rasa canggung itu mulai menggerogoti suasana yang awkward. Perbincangan mengenai hobi dan
hal-hal yang kami sukai dibahas untuk kedua kalinya, sudah habis 1 gelas
minuman yang kami pesan dan karena itu, dia mengajakku untuk mengakhiri
pertemuan ini, sebagai lelaki, tentu saja dia menawarkan diri untuk mengantarku
sampai ke rumah.
Motor
Ninja berwarna putih biru itu telah sampai tepat di depan rumahku, dan untuk
pertama kalinya aku dibonceng oleh teman cowok yang cukup istimewa sampai di
depan rumah, “ Mau mampir nggak?” tanyaku yang sedikit canggung dan basa-basi,
“Hmmm, boleh deh sebentar.” Sontak aku tertegun mendengar jawaban itu, dan apa
yang harus aku katakan pada ibu, maklum saja ini pertama kalinya aku membawa
teman laki-laki masuk ke rumah.
“Assalamu’alaikum,
ibu, Maya pulang.” “Wa’alaikumsalam.” ibu menjawab salamku. Benar saja, ibu
tampak bingung dengan kedatanganku bersama Dicki, ibu menyuruh kita duduk dan
ibu mulai bertanya mengenai apa yang aku lakukan dan siapa lelaki yang datang
bersamaku ini, aku pun menceritakan semua pada ibu mulai dari perkenalan ku
dengan Dicki di facebook sampai kejadian aku dibonceng cowok yang nggak aku
kenal. Tanpa ada yang terlewatkan semua kuceritakan pada ibu. Selayaknya
seorang ibu yang sangat menyayangi putrinya, beliau memberikan nasihat agar aku
lebih berhati-hati terhadap setiap orang yang baru aku kenal.
Hari-hari
aku lalui dengan penuh semangat, itu semua karena dampak yang ditimbulkan oleh
Dicki, dia rajin menyemangatiku dan aku rasa aku telah jatuh hati kepadanya
sejak pertemuan pertama kali itu.
Berbaring
di sofa ruang keluarga sambil memainkan ponselku, bergetar ponselku menandakan
ada messenger, dengan sigap jemariku
membukanya dan ternyata itu adalah pesan dari
Dicki, “Kapan kita bisa jalan bareng lagi?”, tentu saja hatiku langsung
berbunga-bunga, awalnya aku jual mahal dan diselingi dengan basa-basi, dan
akhirnya kita sepakat untuk bertemu di taman hiburan weekend ini.
Weekend yang kutunggu-tunggu akhirnya
datang juga, aku mempersiapkan diri semaksimal mungkin, dengan penampilan yang
simpel tapi elegan. Kudengar suara motor yang waktu itu, terhenti di depan
rumahku. Dengan ramah, ibuku membuka pintu dan benar saja, dia yang datang
adalah yang ditunggu. Ibu memanggilku, aku dan Dicki pun pamit untuk pergi
bersama, tentu saja ibu mengijinkanku, lagi pula Dicki sudah datang, tidak
mungkin ibu akan melarangku.
Seharian
waktu kuhabiskan bersamanya, taman hiburan, mall, dan bioskop sudah kita
datangi. Rasa lelah kalah dengan kesenangan yang aku rasakan bersamanya. Pertemuan
kedua ini, membuatku semakin nyaman bersama Dicki. Pikirannya dan tutur katanya
sangat menawan, bersikap dewasa, tanpa berlebihan. Candaan-candaanya mampu
membuat aku tersenyum lebar. Disisi lain, ketakutanku akan perpisahan mulai
merambah hati dan perasaanku, tak bisa dipungkiri bahwa setiap pertemuan akan
berakhir dengan perpisahan.
Sudah
1 bulan sejak pertemuan kedua itu dan tak ada kabar dari Dicki, dia menghilang
seakan ditelan bumi, entah kenapa dia menjauh, aku tak bisa menebak-nebak apa
sebabnya. Facebook tidak pernah
aktif, sms tak pernah dibalas, susah ditelfon, bbm juga nggak pernah on.
“ Gimana kabar Dicki Kak?” nggak kuduga ibu bertanya seperti itu. “Entahlah,
Maya juga nggak tahu bu.” Aku menjawab pertanyaan ibu dengan nada yang penuh kekecewaaan.
nggak terasa air mataku langsung menetes seketika aku melihat foto di profil
bbm Dicki yang memajang gambar dirinya bersama seorang cewek yang terlihat
jelas perangainya tidak ada hubungan darah melainkan terlihat seperti sepasang
kekasih yang sedang dimabuk asmara. Apa dayaku yang hanya sebatas “kenalan”.
Sekarang aku tahu kenapa Dicki menjauh dariku dan tak mau menghubungiku, dan
cowok misterius bernama Irfan, sampai sekarang aku nggak tahu apa-apa tentang
dia.
Tak mau lebih jauh untuk sakit hati, aku menyibukkan
diri dengan mengikuti beberapa seminar dan macam- macam sosialisasi yang
diadakan di sekolah. Dengan cara ini aku berharap aku bisa melupakan dan
menghilangkan perasaanku untuk Dicki.
***
Aku
memang anak yang selalu update di
media sosial terutama facebook, hal
apa saja yang aku alami terutama emosi perasaan, entah itu sedih, senang,
kecewa, gelisah atau hal-hal yang menurut orang lain tidak penting pun aku
unggah di facebook, terkecuali
masalah percintaanku. Aku memiliki prinsip bahwa cinta adalah masalah yang
sangat pribadi dan bukan konsumsi publik, terlalu sakral bila masalah
percintaan dikemukakan di ranah umum.
Walaupun
sudah 1 bulan berlalu, bayang-bayang Dicki masih jelas dibenakku. Simpang siur
akun-akun “Dicki” kedua kembali berdatangan, tapi tak ada yang senyaman ketika
aku bersamanya. Aku mencoba untuk fokus pada seorang cowok saja, dengan harapan
aku bisa melupakan Dicki sepenuhnya ketika aku bersama dia yang baru. Secara
tidak langsung aku mencari seseorang yang dapat membantu berlari dari kenyataan
bahwa perasaanku masih bersama Dicki. Dia adalah Akhmad, cowok yang bersekolah
di SMK swasta jurusan otomotif kelas 12. Nggak beberapa lama sejak kita saling
berkenalan di facebook, kita
memutuskan untuk bertemu. Aku akui dia tidak kalah kerennya dengan Dicki, dia
terlihat sangat antusias, tapi aku tidak akan ceroboh lagi tentang perasaan.
Mengambil ancang-ancang dan mempersiapkan hati jika sewaktu-waktu dia
menghilang.
Beberapa
kali aku dan Akhmad jalan bareng, hingga dipertemuan ke-3 dia menyatakan
perasaanya padaku. Sebenarnya aku merasa nyaman dengan dia, tapi belum ada
perasaan seperti yang aku rasakan kepada Dicki, setelah aku pikir-pikir mungkin
ini kesempatanku agar aku bisa melupakan Dicki dan waktu demi waktu mungkin aku
akan benar-benar sayang sama Akhmad.
Beberapa
minggu aku menjalin hubungan dengan Akmad, mulai timbul rasa sayang dan sedikit
demi sedikiti ada cinta didalamnya. Komunikasi yang begitu rutin dan lancar
disertai topic-topik pembicaraan yang tak pernah ada habisnya, dari situlah aku
menaruh perasaan yang sama seperti dulu yang pernah kusinggahkan untuk Dicki.
Sekarang aku benar-benar sayang sama Akhmad, dan benar-benar bisa melupakan
Dicki sepenuhnya.
***
Apa
boleh dikata, ternyata ada cewek lain selain aku yang ada di hati Akhmad, aku
mengetahuinya secara langsung dari Akhmad bahwa dia ingin mengakhiri
hubungannya denganku. Rasa sakit itu bertambah saat dia mengatakannya melalui
pesan singkat yang dikirimnya, “ Sebelumnya aku benar-benar minta maaf Maya,
aku memang lelaki yang pengecut, ada cewek lain selain kamu dan aku lebih
menyayanginya, daripada hubungan kita dilanjutkan dengan penuh sandiwara lebih
baik kita sampai disini, sekali lagi aku minta maaf.” Pesan yang kuterima
setelah aku lagi capek-capeknya pulang dari sekolah. Aku tak menjawab pesan
itu, bukan apa-apa, hanya saja aku nggak punya pulsa. Sungguh sakitnya hatiku,
aku sedang sayang-sayangnya sama dia, tapi malah dia ingin mengakhirinya. 2
hari setelah itu aku mendapati pesan singkat darinya lagi, “ Maya, apa kau tak
mau memaafkan kesalahanku? Aku tak bahagia dengannya, dia sudah menghianatiku
dengan menjalin hubungan juga dengan temanku sendiri. Maya kita bisa kan
memperbaiki hubungan kita?” dan banyak pesan singkat yang dikirimnya, yang
intinya dia pengin balikan sama aku. Aku pun tidak membalasnya karena masih
belum sempet juga beli pulsa, aku memang orang yang pemaaf dan tidak ingin
memperpanjang masalah. Jujur saja, perasaanku ke Akhmad sudah tak utuh lagi.
Dengan bermodalkan pulsa hutangan dari operator, aku menjawab pesan singkatnya
“Ya udah Mad, lupain aja, kita mulai hubungan kita dari awal lagi.” Dan
hubungan kita pun masih berlanjut, mungkin ini adalah karma, karena niat awalku
yang hanya menjadikan Akhmad sebagai pelarian dari perasaanku terhadap Dicki.
Setelah
beberapa lama, aku merasa bahwa hubunganku dengan Akhmad terasa hambar, semakin
lama aku seperti meyepelekan dia, tak ada lagi rasa cinta untuknya. Beberapa
hari aku merenungi apa yang telah aku perbuat, aku sadar telah dibutakan oleh
cinta. Dengan mudahnya dia menyatakan cinta, ingin mengakhiri hubungan, dan
minta balikan. Semudah itukah baginya? Ternyata cinta tak sebegitu indah
seperti dalam bayanganku. Tak ada nafsu lagi aku memburu cinta. Cukup sampai disini
aku sakit karena cinta. Tak akan ada lagi dunia cinta yang maya. Inilah
skenario-Nya. Tuhan tahu bahwa yang kubutuhkan saat ini bukan lah cinta dari
seorang laki-laki.
***
Begitu
saja aku mengakhiri hubunganku dengan Akhmad. Entah apa yang dipikirkanya
tentangku, aku tak peduli lagi. Menata kembali hidupku untuk masa depan, fokus
pada karir dan sekolaku, aku tak ingin pusing-pusing lagi memikirkan jodohku.
Biarlah jodohku yang pusing memikirkan dimana aku.
Yaps, semoga kalian bisa memetik hikmah yah dari cerpen ini...
terimakasih
terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar